Jumat, 28 September 2012

Parkir Pararel Batal


PARKIR: Rencana Dishub Kota Palembang untuk melakukan uji coba parkir pararel di Jl Sudirman batal batal dilaksanakan pada September ini. Parkir sudut yang yang dilakukan sejumlah kendaraan roda empat seringkali membuat arus lalu lintas terganggu danmenimbulkan kemacetan

Butuh 5 Tahun Ubah Sistem Parkir


PALEMBANG – Rencana Dinas Perhubungan kota ini berkerja sama dengan Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammaenarbeit (GIZ) untuk melakukan uji coba parkir pararel di Jl Sudirman sepanjang 2 km batal dilakukan September ini. Kendalanya, infrastruktur pendukung seperti rambu-rambu dan marka jalan parkir belum siap.

Kadishub Kota Palembang, Masripin Thoyib menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan GIZ soal pembatalan tersebut. "Kalau kita sebenarnya ingin cepat, tetapi karena keterbatasan jadi kita akan bahas ulang,” jelasnya kepada wartawan.

Untuk diketahui, parkir dilakukan mulai dari Bundaran Air Mancur hingga simpang Charitas. Selama ini, kendaraan biasanya parkir dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Nah, nanti menjadi 180 derajat. “Selama ini parkir sudut di Jl Jenderal Sudirman, mengganggu ruang yang diprioritaskan untuk BRT (Bus Rapid Transmusi). Nah, dengan parkir pararel maka ruang untuk BRT tidak terganggu,” jelasnya. Lagian, menurut UU No 22/2009 dan PP No 32/2011 dilarang parkir on street pada jalan nasional.

“Jika hasil evaluasi pada uji coba parkir paralel baik, kemungkinan sistem parkir tersebut dapat diterapkan permanen di tempat lain seperti Central Business Distric (CBD). Tepatnya, sekitar 16 Ilir, Jalan Kapten A Rivai, dan Jalan Veteran,” ungkapnya.

Tahap awal, kemungkinan Dishub akan memanggil juru parkir (jukir) bertugas di Jalan Jenderal Sudirman untuk diberikan pengarahan tentang cara menerapkan parkir pararel. Jumlah jukir tersebut sekitar 100 orang.

Selain itu, terang Masripin, sistem parkir memang mengurangi jumlah kendaraan yang parkir. “Otomatis PAD akan berkurang, tetapi hal itu sudah kita konsultasikan dengan DPRD kota. Hal itu resiko, tetapi demi mengurangi kemacetan di kota maka harus kita lakukan. Harapan lalu lintas menjadi lancar, tertib, dan kemacetan bisa berkurang,” ungkapnya.

Pengelolaan parkir di Palembang, terang Masripin, memang perlu dikelola dengan baik sehingga tata Kota Palembang semakin baik. “Kita siap mendukung dan berkoordinasi dengan GIZ. Yang jelas, kita ingin pengelolaan parkir di Palembang semakin baik. Sebab, kota kita terus mengalami kemajuan pesat. Bila tidak dikelola dengan baik bisa timbul masalah baru,” bebernya.

Sementara itu, konsultan GIZ Arimbi Jinca mengaku belum mau menjelaskan rencana parkir pararel itu lebih jauh. “Saya belum bisa mengatakan rencana itu. Karena besok (hari ini, red) kita akan kembali menggelar rapat intern. Kita pun ingin secepatnya pengelolaan parkir pararel dapat berjalan,” bebernya.

Yang jelas dalam waktu dekat ini, terang Arimbi, pihaknya merencanakan akan mendatangkan tenaga ahli GIZ yakni Paul Barter yang bakal melakukan proses pendampingan implementasi. “Rencana tenaga ahli itu datang pada 1-3 Oktober mendatang,” jelasnya. Pihaknya terus melakukan diskusi dan pemantapan rencana parkir pararel itu bersama Dishub Kota Palembang.

Sebelumnya, Arimbi mengatakan untuk mengubah sistem parkir di kawasan terlarang, tidak bisa dilakukan secara spontanitas. Paling tidak butuh waktu 5 tahun. “Dan sebaiknya, untuk pengelolaannya (parkir) harus dilakukan pihak ketiga. Salah satu perusahaan daerah yang tertarik untuk mengelola parkir ini adalah SP2J (Sarana Pembangunan Palembang Jaya),” ungkapnya.

Selain itu, program lain GIZ juga berencana akan memetakan zona parkir di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. "Kita juga akan memanfaatkan lahan tidur di pusat kota untuk dijadikan lahan parkir," pungkasnya. (cj7/ce2)

Sumatera Ekspres, Jumat, 28 September 2012

Nomor Satu Pengembang BRT


Pelopor: Kota Palembang menjadi yang nomor satu pengembang BRT. Saat ini, armada Transmusi sendiri mencapai 120 unit

Tahun ini, Kota Palembang menuai banyak penghargaan dalam hal pelayanan publik. Torehan penghargaan tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan Wali Kota Palembang Ir H Eddy Santana Putra MT. Bahkan, tak jarang banyak daerah dan provinsi yang "berguru" ilmu ke Kota Pempek ini.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -



Salah satu di antara prestasi dibidag publik tersebut, Palembang berhasil meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) 2011. Palembang dinilai berhasil mengembangkan sistem trasportasi dan perhubungan melalui kehadiran Bus Rapit Transit (BRT) Transmusi.

Penghargaan langsung diserahkan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) RI, EE Mangindaan, kepada Wali Kota Palembang Ir H Eddy Santana Putra MT di ruang Mataram Kementerian Perhubungan Jakarta, 29 Mei lalu. Ikut mennyaksikan perwakilan Wali Kota dan Bupati se-Indonesia. Pengharaan tersebut merupakan ketiga kalinya diraih setelah sebelumnya Palembang mendapat plakat dan Piala WTN bidang transportasi.

Bahder Johan, Direktur Utama PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (PT SP2J) -- perusahaan yang membawakan salah satu unit usaha BRT menjelaskan, pada setiap pertemuan forum transportasi se-Indonesia, Transmusi selalu menjadi perbincangan bagi daerah lain. "Kita nomor satu dalam hal pengembang BRT. Jumlah armada kita paling banyak dibandingkan daerah lain. Alhamdulillah berkat komitmen Wali Kota Eddy Santana sehingga secara bertahap kita terus menambah armada," jelasnya.

Saat ini, Bahder mengatakan, jumlah armada Transmusi sudah 120 unit. Padahal awalnya, pemerintah kota mempunyai 25 unit armada. Tahun depan, pihaknya berencana menambah 80 unit Transmusi kembali.

Wali Kota Palembang Ir H Eddy Santana Putra menjelaskan, sebelumnya Pemkot meraih plakat WTN bidang transportasi. Nah, tahun ini dapat WTN dua bidang, yakni lalu lintas dan transportasi. "Apa yang diraih merupakan hasil kerja keras semua pihak dan masyarakat Kota Palembang," jelasnya.

Eddy berharap, penghargaan dapat terus dicapai pada tahun berikut. "Sekarang kita terus memperbaiki koneksitas modal transportasi, seperti jalan, sungai, kereta api, dan udara. semua koneksitas itu sebentar lagi akan selesai." (cj7/ce4)






Apa Kata Mereka.....?



Kuliah Naik Transmusi
Transmusi sudah menjadi pilihan bagi masyarakat Palembang untuk menjalani aktivitas sehari-hari, dari pelajar hingga mahasiswa, tak terkecuali para oranngtua. kondisi di dalam bus yang nyaman dan bersih menjadi menjadi alasan utama sebagian masyarakat memilih Transmusi dibandingkan bus kota dan angkot.

Mutiara (19), mahasiswi Bina Husada Angkatan 2011 mengaku senang dengan keberadaan Transmusi di Palembang.

"Wah, saya sudah sejak kuliah selalu pergi dan pulang naik Transmusi, Kak," ujarnya ketika menunggu di halte BRT Transmusi depan Masjid Agung Palembang, kemarin.

Alasannya? Tiara, sapaan akrabnya, mengatakan, naik Transmusi itu aman, nyaman, dan bersih. (cj7/ce4)

Tidak Kejar Setoran
Tabroni AK (40), sopir BRT Transmusi mengatakan, sangat nyaman dan enjoy dalam menjalankan profesinya sebagai sopir Transmusi. Dia memulai profesi tersebut sejak 2009 melalui proses seleksi yang diakuinya sagat ketat.

"Alhamdulillah, kerjanya nyaman dan tidakk kejar setoran, mas," ujar Tabroni yang sebelumnya adalah sopir bus kota jurusan Kertapati-Alang-Alang Lebar itu. Diakuinya, kepemimpinan Wali Kota Eddy Santana Putra sudah bagus karena memperhatikan permasalahan masyarakat, khusunya di bidang transportasi.

Ke depan, pria kelahiran Baturaja Bungin OKUT 15 Juli 1972 itu, menuturkan akan tetap menjalani profesi sebagai sopir Transmusi. "Saya senang dpat melayani masyarakat dengan menjadi sopir Transmusi," bebernya. (cj7/ce4)

Jangan Terlena
Pengamat transportsi Universitas Sriwijaya, Dr Erika Buchari, mengingatkan penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) 2011 yang diperoleh Palembang jangan sampai membuat pemerintah kota terlena. Penghargaan itu hendaknya semakin meningkatkan pengawasan terhadap transportasi yang ada.

"Boleh bangga, tapi evaluasi tetap jalan," imbuhnya.

Dikatakan, monitoring terhadap lalu lintas perlu lebih diperhatikan, terutama Jembatan Ampera. Saat ini frekuensi kendaraan yang melintas sudah ramai sehingga keberadaan jembatan penunjang perlu perlu direalisasikan untuk mengantisipasi kemacetan di Jembatan Ampera. "Lihat saja, satu saja mobil mogok di atas Jembatan Ampera, pasti terjadi macet panjang. Dampaknya, kendaraan numpuk di atas jembatan dan itu menjadi beban Ampera," ujarnya.

Terkait kampanye transportasi hijau dengan perluasan lajur sepeda yang diterapkan Pemkot Palembang, Erika mengaku, sepakat dengan program tersebut. "Sekarang Palembang butuh pengadaan transportasi hijau. Kita talah lama meminta pemerinta Palembang untuk menggalakkan transportasi hijau," pungkasnya. (cj7/ce4)

Sumatera Ekspres, Selasa, 25 September 2012

Kamis, 27 September 2012

Dari Becak China Hingga Trans Musi


Melirik Transportasi Palembang Dari Masa ke Masa
Sistem transportasi selalu berubah. Terus mengalami kemajuan seiring perkembangan zaman. Yang tengah dikembangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang saat ini, Trans Musi. Yang kini menggerus bus kota dan menggusur angkutan kota (angkot) ke pinggiran. Melirik ke belakang, transportasi di Palembang sudah beberapa kali mengalami evolusi. Bahkan, sebelum era kemerdekaan, ternyata ada juga yang namanya becak China. Seperti apa perkembangan transportasi di kota empek-empek in dari masa ke masa?

Dari catatan kecil dibuat penjajah Belanda, kota Palembang awal abad ke-19 disebut dengan kota air. Dibelah sungai Musi, lebih dari 100 anak sungai mengaliri kota ini. Sebutan Venice of The East atau Venezia dari Timur pun melekat. Karena keadaan Palembang tak ubahnya kota air seperti Venezia, Italia.

Faktor sungai yang menjadi urat nadi inilah yang membuat kehidupan masyarakat tinggal di pinggiran sungai. Pendek kata, ketika jalur transportasi darat belum berkembang, sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam, transportasi wong Plembang lebih dominan menggunakan jalur air.

Dari satu tempat ke tempat lainnya, masyarakat lebih banyak menggunakan perahu dengan menelusuri anak-anak sungai Musi. Pemandangan pasar terapung layaknya di Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel, red) masih cukup banyak diingat bagi kalangan tertentu.

“Kalau dulu, yang jualan model, tekwan, sayur sampe duren itu masih banyak di perahu,” celetuk, Ali Hanafiah SH, Sejarah dan budayawan Palembang kepada Sumeks Minggu, ditemui Rabu (19/10) lalu.

Angkutan air skala besar, zaman Belanda terdapat kapal Mary serta Kapal Roda Lambung. Yang mengangkut penumpang dari kawasan Kertapati, Plaju hingga Sungai Gerong.

Moda transportasi air ini lanjut Ali Hanafiah yang akrab di panggil Mang Amin usai zaman kemerdekaan masih banyak digunakan. Hingga dibangun serta dioperasionalkanya jembatan Ampera sekitar tahun 1965, yang namanya penggunaan perahu serta jalur transportasi air mulai berkurang.

“Paling yang masih terlihat saat ini perahu Kajang. Digunakan orang luar Palembang untuk mengangkut hasil perkebunan ke Palembang. Bentuk perahunya besar dengan atap,” ungkapnya.

Transportasi darat sendiri mulai berkembang awal tahun 1920. Ketika penjajah Belanda secara sporadis menimbun anak-anak sungai, mendukung moda transportasi ini. Hanya saja, pada masa Belanda belum terdapat angkutan umum.

Yang namanya angkutan seingat Mang Amin yang kini menjabat sebagai Kepala UPTD Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II masih berupa becak. Bukan juga becak roda tiga yang dikayuh dari belakang. Namun becak roda dua yang ditarik oleh orang China dengan ciri khas rambut berkuncir.

Itulah sebabnya, transportasi yang satu ini disebut dengan becak China. Operasinya berada di pasar 16 Ilir dan sekitarnya. Menarik kalangan pribumi berada serta None None Belanda. Becak China, diperkirakan beroperasi tahun 1920 hingga 1940.

“Penarik becak ini memang seluruhnya orang China. Pada masa Kesultanan Palembang, orang China dianggap sebagai pendatang, tinggalnya saja di rumah rakit,” ungkap Mang Amin.

Setir di Kiri, Hidupkan Mesin Diengkol
Usai zaman kemerdekaan, ketika teknologi dan jalur darat mulai berkembang, sistem transportasi pun berevolusi. Adalah jeep Willys asal Amerika yang dijadikan angkutan umum oleh wong Plembang. Dulunya angkutan ini disebut dengan Taksi. Kini, angkutan yang sudah hampir hilang ini disebut dengan ketek.

Nah, konon nama ketek disematkan pada mobil diproduksi pada perang dunia ke II ini karena suaranya seperti perahu ketek di sungai Musi “tek, tek, ktek, ketek”. Jalanya pun lambat seperti ketek sungai. Padahal, saat itu naik kendaraan itu bagi banyak kalangan sudah termasuk “ngerot” alias hebat.

Di jalan Sosial Km 5, Ampera 3-4 Ulu, Sekojo-Lemabang, Ampera Tangga Takat, tahun 1980 an angkutan ini masih banyak dijumpai. Masuk awal tahun 2000, angkutan ini seperti raib ditelan bumi. Sulitnya mencari onderdil, borosnya bahan bakar diyakini penyebab tak digunakannya lagi mobil ketek.

Pada masa mobil ketek ini, ada angkutan lain jenis Chevrolet. Bentuknya seperti sedan namun dengan body mini bus. Baik mobil ketek serta Chevrolet ini terbilang unik. Karena buatan Amerika, setir berada dibagian kiri. Untuk menghidupkannya pun mesti diengkol dengan tangan searah jarum jam.

Tahun 1980an, ketika teknologi mulai berkembang, munculah jenis angkutan baru. Produk Jepang, Toyota Hi-Ace masuk. Bentuknya body panjang, masih banyak menggunakan kayu dan tanpa kepala. Kendaraan ini banyak digunakan pada trayek Plaju Ampera serta Kertapati Ampera.

Tahun 1990an, muncul lagi jenis terbaru Toyota Kijang. Pada masa yang sama kemudian muncullah yang namanya bus kota. Saat awal muncul bus kota sempat disebut sebagai kemajuan. Saat ini, bus kota mulai ditinggalkan. Pemkot Palembang pun mulai menggalakan penggunaan Trans Musi yang lebih nyaman dengan Air Conditioner (AC). “Yang pasti, angkutan itu tergerus oleh kemajuan zaman,” tandas Mang Amin. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 25 Oktober 2011 12:53 | Sumeks Minggu

Kehidupan Rumah Rakit Zaman Kesultanan



Khusus Warga Pendatang, Bermasalah Rumah Dihanyutkan, Rumah rakit, mungkin bisa dikatakan sebagai rumah tertua di kota Palembang. Diperkirakan, rumah yang mengapung di pinggiran sungai Musi ini telah ada pada zaman Sriwijaya. Saat ini, rumah rakit ini diakui sebagai penunjang pariwisata. Hanya saja, melirik ke belakang pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam, rumah rakit ternyata khusus diperuntukan bagi warga pendatang, terutama Warga Negara Asing (WNA). Apa sebab?

Bicara peradaban Palembang tak dapat dipisahkan dengan sungai Musi. Sungai ini merupakan kehidupan vital wong kito sejak berabad-abad lalu. Nah, salah satu peradaban tertua yang sudah ada sejak zaman Sriwijaya adalah rumah rakit.

Dikatakan rumah rakit, karena pondasinya terbuat dari bambu. Bahan utama membuat rakit. Bahan bambu inilah yang membuat rumah rakit bisa mengapung. Naik serta turun, tergantung pasang surut sungai.

“Bahan lain bisa dikatakan murah meriah. Menunjukan budaya lokal zaman dulu,” ungkap Kms Aripanji SPd MSi, Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Sumsel kepada Sumeks Minggu, dibincangi Rabu (26/10) lalu.

Maksudnya, dengan rumah rakit ini, masyarakat yang hendak mendirikan rumah tidak perlu melakukan penimbunan seperti sekarang ini. Yang dapat menggangu ekosistem dan menimbulkan banjir karena berkurangnya daerah resapan air. Keuntungan lain, tentu saja pemiliknya bisa memindahkan rumah ke daerah lain dengan cara dihanyutkan.

Nah, rumah rakit sendiri disusun dari batangan bambu, dipasang lantai papan dengan penyangga tiang pendek. Sehingga, meski berada diatas sungai, lantai rumah tidak kemasukan air. Rumah ini pun bisa disebut “anti banjir”.

Barulah di sudut atas di pasang tiang penyangga untuk menyusun dinding rumah serta menegakan atap. Atap rumah rakit sendiri sejak zaman dulu menggunakan nipah. Saat ini banyak digunakan seng atau seng berbentuk genteng yang bahannya ringan. Agar tidak hanyut ke hilir atau hulu, ditancapkan tiang di tiap sudut rumah. Lalu tiang diikat ke sudut rumah.

Aturan Bernuansa Politik
Masalah rumah rakit diyakini Aripanji telah ada sejak zaman Sriwijaya, abad 7 hingga 14. Termasuk pada masa Kerajaan Palembang, 14 hingga 17 serta pada masa Kesultanan Darussalam abad 17 hingga 19.

Hanya saja, masalah rumah lebih dikenal pada masa Kesultanan. Ini tak lepas dari kebijakan dibuat pada masa itu. Kebijakan tersebut dikatakan Aripanji sebagai kebijakan atau aturan bernuansa politis.

Yakni, menempatkan para pendatang khususnya Warga Negara Asing (WNA) untuk tinggal di rumah rakit. Seperti warga China serta Belanda. Sedangkan penduduk pribumi saat itu tinggal didaratan. Atau pinggiran sungai dengan tiang rumah sudah menyentuh daratan.
“Berbeda dengan orang Arab. Pada masa Kesultanan mereka dimuliakan. Banyak dijadikan guru, menantu atau panglima perang. Ini juga karena ada kesamaan qaidah (agama Islam, red),” ungkap Ari.

Didiskrimanasinya para pendatang pada masa Kesultanan lanjut Ari karena adanya kecurigaan. Seperti bangsa Belanda yang sudah sejak lama terkenal hendak menjajah Indonesia.

“Kalau orang China itu dicurigai karena kedekatannya sama Belanda. Tapi itu kan karena masalah perdagangan saja, “ ujarnya cepat.

Dengan tinggalnya para pendatang serta WNA ini diatas rumah sakit, secara otomatis, Kesultanan dapat secara mudah melakukan pengontrolan. Mereka bermasalah, tali pengikat rumah rakit tinggal dipotong, rumah itu pun bakal hanyut.

Hanya saja, Belanda dapat melakukan pendekatan dengan Kesultanan hingga dapat mendirikan sebuah loji (kantor dagang,red) di sungai Aur. “Kemudian, mereka juga menepi dan tinggal di darat,” jelasnya.

Sejak Belanda berhasil menguasai Kesultanan Palembang, keadaan berubah. Usai kemerdekaan hingga kini, jumlah rumah rakit dipastikan berkurang. Rumah rakit pun tak lagi kesannya tempat orang diasing atau terpinggirkan. Yang tak banyak berubah, rumah rakit banyak digunakan sebagai tempat berdagang. Yang dulunya banyak dilakukan orang-orang China. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 01 November 2011 11:57 | Sumeks Minggu