Selasa, 06 November 2012

Jukir Dilatih Militer

Jukir Dilatih Militer

PALEMBANG -- Juru parkir (jukir) punya peranan penting dalam penerapan pola parkir 180 derajat di lapangan. Apalagi, Pemkot Palembang akan menerapkan pararel di sepanjang Jl Sudirman. PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (PT SP2J) sebagai pihak yang dipercaya mengelola parkir pararel berencana melakukan pelatihan dan outbound jukir. Pelatihan rencananya di markas Kodim.

Direktur Utama PT SP2J, Bahder Johan, mengatakan, pelatihan dan outbound tersebut bertujuan untuk meningkatkan rasa tanggung jawab, kerja sama, dan disiplin para jukir dalam melaksanakan tugasnya. "Pelatihan itu sama seperti yang kami terapkan untuk karyawan BRT Transmusi," ujarnya. Juru parkir yang direkrut berusia maksimal 40-50 tahun, dan harus berkepribadian baik. "Kita akan seleksi jukir yang ada," cetus Bahder.

SP2J berjanji akan memperhatikan kesejahteraan jukir. "Kesejahteraan mereka pasti terjamin, berupa keteraturan hidup sesuai aturan perusahaan. Jika para jukir yang sebelumnya hanya menaati aturan sosial terkait kejar setoran, maka nanti mereka yang direkrut itu akan bekerja sesuai jam kerja, gaji standar kerja sesuai upah minimum kota (UMK). Kita sertakan juga juga Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)," bebernya.

Dijelaskan Bahder, pihaknya sudah mempertimbangkan itu karena karena para jukir nantinya pasti mempertanyakan itu. SP2J sendiri sudah mengantisipasi terjadinya kebocoran setoran parkir pararel dengan akan menerapkan smart card. Dijelaskannya, tugas jukir cukup mengatur alur parkir kendaraan tanpa harus menagih dan menyetor jasa parkir. Penggunaan smart card itu sama seperti yang berlaku di BRT Transmusi.

"Hal itu kita lakukan sebagai upaya mewujudkan integrasi antarmoda ke depannya. "Kami telah mempersiapkan 48 ribu smart card buatan Cina," ungkapnya. Apabila kurang, pihaknya juga telah mempersiapkan 52 ribu smart card tambahan dari perusahaan yang sama di Cina. "Kartu itu bisa digunakan juga pada jasa pelayanan BRT Transmusi. Pada kartu itu ada chip, jadi keamanan terjamin," bebernya. (cj7/ce1)

Sumatera Ekspres, Selasa, 6 November 2012

Rabu, 24 Oktober 2012

Tidak Menyala

Tidak Menyala

Sudah hampir satu minggu lampu penerangan Jl Yos Sudarso tidak menyala. tampak kondisi gelap di Jalan Yos Sudarso, simpang empat Terminal Lemabang, Palembang

Posted by : LEMABANG 2008, Rabu, 24 Oktober 2012 08:44 PM

Minggu, 21 Oktober 2012

Foto: Air Tergenang di Tengah Terminal Lemabang

Tergenang


Sudah sepekan air menggenang di tengah Terminal Lemabang, dan menimbulkan aroma yang tak sedap. Tergenang air di tengah Terminal ini dikarenakan tersumbatnya gorong-gorong yang berada di tengah Terminal Lemabang, sehingga menyebabkan air selokan meluap dan menggenang di tengah Terminal.

Posted by : LEMABANG 2008, Minggu, 21 Oktober 2012 09.45 PM

Kamis, 18 Oktober 2012

PKL - Petugas Kucing-Kucingan

LEMABANG -- Mengaku berat membayar harus membayar uang sewa di lapak Pasar Pagi Lemabang, Pasar Lemabang, dan Pasar Javennda, para PKL nekat kembali berjualan di badan Jl Yos Sudarso, Lemabang. Padahal lokasi tersebut dilarang untuk aktivitas berjualan.

Petugas sAt Pol-PP Kota Palembang dan pihak Kecamatan Ilir Timur (IT) II pun sudah berulang kali melakukan penertiban di kawasan tersebut. "Kita bukannya tak mau pindah berjualan ke pasar yang ada, tapi sewa pasar yang diberlakukan sungguh memberatkan kita (para pedagang, red)," ujar Hartono, salah seorang PKL, kemarin.

Apalagi hasil penjualan yang diperoleh sekedar unutuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Camat IT II, Yanurpan Yani, melalui Kasi Trantib Kecamatan IT II, Harsyah, mengatakan, pihaknya setiap pagi harus melakukan penjagaan dan patroli.

Saat pihaknya berjaga, tak ada satu pun PKL yang berani berjualan. Namun, ketika petugas meninggalkan lokasi, PKL kembali marak. (yud/ce4)

Sumatera Ekspres, Kamis, 18 Oktober 2012

Senin, 15 Oktober 2012

Target Keruk Satu Juta Lumpur

Pada tiga Lokasi di Muara Musi

PALEMBANG -- Administrator Pelabuhan (Adpel) Palembang pasang target mengeruk satu juta meter kubik lumpur yang berada di dasar muara Sungai Musi. Ada tiga lokasi pengerukan, yakni ambang luar C2, C3, dan selat Jaran.

Pengerukan menggunakan kapal TSHD Perintis 2000 dan TSHD Inai Kesuma. “Kami mampu mengeruk lumpur satu juta meter kubuk pada tiga lokasi tersebut. Kapal Perintis 2000 mampu mengeruk sekitar 18.150 meter kubik per hari, sedang kapal TSHD Inai Kesuma 11.550 meter kubik,” kata Bakri, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengerukan Sungai Musi, kemarin ( 11/10).

Kapal Perintis 2000 melakukan penghisapan lumpur di dasar Selat Jaran. Lumpur yang didapat lalu diangkut ke dumping area (lokasi pembuangan, red) yang berjarak sekitar 6 km. Lumpur campur pasir itu dibuang dengan sistem open buttom (buka tutup, red) pada bagian bawah kapal.

“Hanya dibutuhkan waktu sekitar lima menit saja, seluruh lumpur yang disedot bisa langsung terbuang,” jelas Bakri. Sementara, kapal TSHD Inai Kesuma melakukan pengerukan di ambang luar Sungai Musi C2 dan C3. Prosesnya menerapkan cara yang sama, hanya pembuangan lumpurnya dengan sistem pompa. Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk seluruh lumpur dibuang dari kapal.

Proyek pengerukan ini diperkirakan rampung 30 Oktober mendatang. Jika pekerjaan ini selesai, kedalaman ambang luar C2 dan C3 serta Selat Jaran bisa mencapai 6-7 meter saat posisi air surut. “Kapal berukuran draf tujuh bisa melintasi alur pelayaran tersebut,” ucapnya.

Dari hasil survei yang dilaksanakan Adpel setiap tahunnya, diketahui ada beberapa titik alur pelayaran yang dangkal. Di antaranya, ambang luar Sungai Musi (C2 dan C3), utara dan selatan Payung, penyeberangan Upang, Selat Jaran, Muara Kumbang serta Sungai Lais.

Sebenarnya, kata Bakri, pelaksanaan pengerukan tersebut tidaklah optimal untuk mengatasi masalah sedimentasi di muara Sungai Musi. Pasalnya, sedimentasi di muara Sungai musi sebagai lokasi pertemuan arus Sungai Banyuasin dan Sungai Musi sangatlah tinggi.

“Diperkirakan, tingkat sedimentasinya mencapai 20 cm per bulan. Artinya, bila pengerukan dilakukan satu tahun sekali, pendangkalannya sekitar 2, 4 meter,” bebernya. Karena itu, sudah semestinya Adpel Palembang memiliki kapal keruk sendiri sehingga pengerukan alur pelayaran bisa dilakukan lebih sering. ”Harga kapal keruk sangat mahal sehingga jumlah yang ada sekarang sangat minim,” tambahnya. Sementara itu, Kasubdit Pengerukan Ditjen Perhubungan Laut, Ir Erlan Abbas MM mengatakan, hari ini pihaknya berencana akan meninjau pelaksanaan pengerukan ketiga lokasi tersebut. (yud/ce2)

Sumatera Ekspres, Jumat, 12 Oktober 2012