Rabu, 03 April 2013

Parkir Sembarangan

Parkir Sembarangan

Pemandangan ini hampir setiap hari menjelang sore terlihat di dalam Terminal Lemabang, di sepanjang lajur bebas angkutan umum. Para pengguna sepeda motor ini seperti tidak peduli kalau mereka memarkirkan kendaraan di jalur bebas angkutan umum, akibatnya kendaraan umum pun terpaksa ngetem di pintu masuk terminal untuk menaikan penumpang.

Posted by: LEMABANG 2008, Kamis, 4 April 2013 02.12 WIB



Parkir Sembarangan

Jumat, 18 Januari 2013

Terminal Lemabang (Photo Collection 2)





Tambah 30 Transmusi - 20 Ribu Smart Card



PALEMBANG -- Direktur Operasional PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J), Yusransyah Ishak mengatakan, pihaknya dalam proses penambahan armada BRT Transmusi sebanyak 30 unit pada tahun ini. Dimana, 20 unit bus besar dan 10 unit bus sedang.

Bus-bus tersebut akan melayani koridor yang membutuhkan tambahan. Tentu saja disesuaikan dengan tingkat permintaan (load factor) dan kapasitas jalan. Diperkirakan, bus ukuran besar beroperasi di koridor I dengan rute Jakabaring - Simpang Tegal Binangun. Sedangkan yang sedang melayani koridor 7 dan 8.


Tambah 30 Transmusi - 20 Ribu Smart Card
Kata Yusransyah, saat ini sudah beroperasi 120 unit, 40 bus besar dengan kapasitas dua kali bus sedang dan 80 unit bus sedang. "Kalau disetarakan, total Transmusi yang operasionalnya ada 160 unit sedang," bebernya. Untuk mengcover semua koridor, dibutuhkan tambahan 250 unit lagi.

Pihaknya juga akan menambah sekitar 20 ribu
smart card lagi pada Februari nanti. Yang sudah tersebar sekarang ada 40 ribu smart card. "Nantinya smart card Transmusi dapat di beli di toko modern seperti Alfa Mart dan Indomaret," jelasnya. Mulai 24 Desember lalu, pada Transmusi diberlakukan sistem transit dua jam.

"Warga yang menggunakan Transmusi dapat turun dulu dan naik lagi tanpa membayar. Tentu saja untuk perhitungannya terekam dalam
smart card," beber Yusransyah. Saat ini semua koridor telah menerapkan smart card. Ia mengatakan, jumlah pengguna Transmusi saat ini terus meningkat. Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra membenarkan akan adanya penambahan armada Transmusi untuk menunjang kebutuhan transportasi publik masyarakat. (yun)

Sumatera Ekspres, Kamis, 17 Januari 2013

Jembatan Ampera Overkapasitas

Jembatan Ampera Overkapasitas
PALEMBANG -- Beberapa ruas jalan utama di Metropolis semakin sering didera kemacetan. Termasuklah macet di atas Jembatan Ampera dan Musi II, dua jembatan utama penghubung Seberang Ulu dan Ilir.

Karena pembangunan Jembatan Musi III dinilai sudah sangat mendesak untuk diwujudkan. "Jembatan Ampera sudah melebihi batas (overkapasitas). Jangan sampai roboh dulu baru mau dibangun," kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Sumsel, Prof Dr Ir Hj Erika Buchori Msc usai pengukuhan pengurus MTI Sumsel di Gedung Serbaguna Pascasarjana Unsri, kemarin (16/1).

Dikatakan pakar transportasi itu, wacana pembangunan Musi III sudah lama terbangun harus diwujudkan dalam waktu dekat. Kondisi Ampera sudah riskan. "Kalau dilihat
level of service-nya, dari hasil pembagian volume dengan kapasitas Jembatan Ampera sekarang mencapai 1,70 satuan indeks. Padahal, idealnya untuk jembatan itu 1,00. Bisa dilihat, banyak motor yang bahkan terpaksa melintas di trotoar begitu juga dengan mobil," bebernya.

Pembangunan Jembatan Musi III yang direncanakan di kawasan Pasar Kuto dan Pulau Kemaro terkendala dari aspek sosial. Ada penolakan dari masyarakat yang lokasinya bakal terkena pembangunan Musi III. "Seharusnya ini segera diselesaikan sehingga pembangunan bisa dijalankan," cetus Erika.


Jembatan Ampera Overkapasitas
Untuk meminimalisir padatnya lalu lintas di Jembatan Ampera, perlu dilakukan pengoptimalan angkutan perairan. "Sekarang sudah ada angkutan sungai yang terintegrasi dengan Transmusi. Nah, ini harus dioptimalkan lagi sehingga penggunaan kendaraan pribadi bisa dikurangi," sarannya.

Pengaturan semacam itu pernah dilakukan saat SEA Games 2011 lalu. "Kalau kita lihat, tiap tahun kepadatan terus meningkat tajam. Harus ada upaya pengalihan ke transportasi air dan kereta api," imbuh Erika.

Ketua Forum Transpotasi Laut MTI pusat, Ir Ajiph Razitwan Anwar MM menambahkan, saat ini pihaknya menyoroti Pelabuhan Boom Baru yang kondisinya sudah proporsional lagi. "Kita sedang mengkaji beberapa kawasan untuk dijadikan pelabuhan tambahan di Palembang. Di antaranya di Mariana, Bagus Kuning, dan Tanjung Api-api. Tapi itu masih survei dan perlu kajian lebih dalam," urainya.

MTI juga mendorong upaya meminimalisir penggunaan angkutan truk yang saat ini makin padat hingga memicu kemacetan. "Kita upayakan untuk membuka jalur ganda di Selat Sunda sehingga bisa langsung ke Palembang. Tapi untuk persiapannya memang perlu waktu paling tidak hingga empat tahun," pungkasnya. (mik/ce2)

Sumatera Ekspres, Kamis, 17 Januari 2013

Kamis, 10 Januari 2013

Becak Beroperasi di Jalan Protokol


BEROPERASI: Penarik becak yang membandel dan tetap beroperasi di keramaian ruas Jalan A Yani, kemarin

SUDIRMAN – Pengaturan lokasi beroperasinya penarik becak dayung dan mesin di Kota Palembang, sepertinya belum berjalan dengan baik dan teratur. Pasalnya, kendaraan roda tiga tersebut makin marak beroperasi di beberapa ruas jalan protokol di kota pempek ini.

Seperti di Jl Jenderal A Yani, Jl Jenderal Sudirman, Jl Kol Atmo, Jl Veteran, Jl Radial, Jl A Rivai, Jl Mayor Ruslan, Jl RE Martadinata, Jl Perintis Kemerdekaan, dan lainnya. Penarik becak tersebut melayani dan mengangkut penumpangnya dengan melintasi jalan protokol yang ada.

Tak tanggung-tanggung, para penarik becak tersebut sering kali melanggar aturan rambu-rambu lalu lintas yang ada. Seperti sering menerobos lampu merah dan menerobos kemacetan di beberapa ruas jalan.

“Kondisi tersebut membuat lalu lintas (lalin) di Kota Palembang sangat semrawut. Padahal, para penarik becak hanya beroperasi dan melayani penumpang di jalan lorong, bukannya ke jalan protokol,” cetus Erwin Sutanto, salah seorang warga, saat ditemui, kemarin (9/1).

Ia berharap, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang agar segera melakukan penertiban dan tindakan kepada para penarik becak yang nakal dan masih beroperasi di jalan protokol tersebut.

“Kita bukannya merusak mata pencarian penarik becak tersebut. Tapi, kita ingin agar Palembang menjadi kota yang tertib, aman, serta masyarakatnya selalu mematuhi aturan yang berlaku,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang, Masripin Toyib, melalui Kabid Pengendali Operasi, Pati Ridwan mengatakan, pihaknya telah mengerahkan empat tim untuk berpatroli dan mengawasi para penarik becak yang beroperasi di jalan protokol.

Ia mengatakan, pihaknya juga telah banyak menjaring dan mengangkut becak dan mengempeskan ban becak yang masih beroperasi di jalan protokol. Pasalnya, para penarik becak dilarang keras beroperasi di jalan protokol yang ada. “Kami juga telah mendirikan beberapa pangkalan becak untuk mengantisipasi dan mencegah penarik becak beroperasi di jalan protokol. Tapi, masih banyak yang nakal dan tak menghiraukan aturan yang berlaku. Karena itu, kami sangat kewalahan untuk menertibkan penarik becak yang jumlahnya sangat banyak di Kota Palembang,” pungkasnya. (yud/via/ce4)

Sumatera Ekspres, Kamis, 10 Januari 2013