Selasa, 25 November 2014

Daya Beli Masyarakat Turun


Daya Beli Masyarakat Turun
Kadisperindag Sumsel, Permana, bersama staf menggelar sidak di gudang beras PT Buyung Poetra Sembada, Desa Begayut, Ogan ilir, untuk memastikan stok beras aman dalam beberapa bulan ke depan

__________________________________________



Pascakenaikan bahan bakar minyak (BBM), ternyata memberikan banyak pengaruh bagi daya beli masyarakat Sumsel. Pasalnya, kenaikan harga BBM kerap membuat harga sembako dan kebuthan lainnya mengalami kenaikan.

Kondisi ini diakui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumsel, Permana, disela survei kebutuhan pokok dan barang strategis di Sumsel, kemarin. (24/11). Ia menyebut, terjadinya kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok terkadang tidak sejalan dengan pendapatan masyarakat. Akhirnya, daya beli masyarakat menurun.

Terkaiit inpeksi mendadak (sidak) yang digelar pihaknya, ada sejumlah kebutuhan yang harus menjadi perhatian, seperti beras. Nah, terkait hal itu, Disperindag juga melakukan sidak di sejumlah gudang beras yang ada di Desa Pegayut (Ogan Ilir) untuk memastikan persediaan beras selama tiga bulan ke depan aman.

"Kegiatan ini merupakan langkah mengetahui persediaan beras yang ada di Sumsel, khususnya Kota Palembang. Menjaga stok barang tetap tersedia untuk menekan harga naik. Kalau barang tidak ada, harga naik. Salah satunya melakukan sidak ini. Apalagi stok barang banyak, tapi naik, itu yang perlu dikaji," ungkapnya.

Permana menambahkan, persediaan beras yang ada di gudang PT Buyung Poetra Sembada masih dalam kondisi aman karena mempunyai stok beras hingga 20 ribu ton dan merupakan salah satu gudang terbesar yang ada di Sumsel.

"Stok mereka aman sampai Februari 2015. Kalau kenaikan harga di atas 20 persen, kami akan mengeluarkan beras dari Bulog. Patokan di atas 15-20 persen. Kalau kenaikan harga beras sudahh di atas 20 persen, kami akan melakukan operasi pasar. Dampak kenaikan BBM, beras sudah mengalami kenaikan 0,05 persen atau Rp 50 per kg untuk beras bermerek atau Rp 500 untuk beras lokal. Tapi, ini baru pengakuan dari pabrik," ungkap Permana.

Informasi yang dihimpun, gudang PT Buyung Poetra Sembada menyebut persediaan beras masih melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ada di Sumsel. "Gudang ini menjual beras beras dengan harga Rp 8.500, dan membeli dari petani Rp 8 ribu," kata Permana. Sealin melakukan sidak ke beberapa gudang beras, pihaknya akan melakukan sidak terkait persediaan sejumlah barang strategis, seperti semen, gula, dan besi.

Selain itu, ada juga PT Tosin yang memiliki persediaan sampai 3 ribu ton hingga Februari mendatang. Gudang tersebut mendatangkan beras dari beberapa daerah di Sumsel dan luar Sumsel, seperti Jawa dan Belitung. Di gudang tersebut, beras dijual dari Rp 9.200 per kg, sementara mengambil dari petani dengan harga Rp 8.700 per kg. Hasil pantauan DisperindagSumsel di pasar tradisional, yakni di Pasar Cinde Palembang, ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan dan penurunan.

Seperti harga beras yang dijual Rp 13.500 per kg, danging dari Rp 90 ribu per kg menjadi Rp 110 ribu per kg. Ada juga cabe merah keritk Rp 80 ribu dari harga sebelumnya Rp 40 – Rp 45 ribu, bawang merah Rp 20 ribu dari Rp 25 ribu, jahe Rp 25 ribu dari Rp 20 ribu, tomat Rp 5 ribu naik menjadi Rp 8 ribu, dan kentang Rp 7 ribu naik menjadi Rp 9 ribu.

”Jika kita lihat harga antara gudang dengan pengecer, tidak jauh berbeda atau dalam kapasitas wajar. Stok yang ada cukup banyak,” ungkapnya. Disperindag berfungsi sebagai pihak yang mengawasi persediaan bahan pokok dan bahan strategis di pasaran. “Saat ini, persediaan di pasaran sangat banyak, sementara daya beli masyarakat menurun, ditambah lagi dengan kenaikan BBM, menyebabkan daya beli menurun,” tuturnya.

Sementara itu setelah dilakukan pantauan ke PT Semen Baturaja (Persero), setiap hari ada sebanyak 2 ribu ton produksi semen. Untuk harga semen saat ini, Rp 67 ribu per sak atau naik Rp 3 ribu dari awalnya Rp 64 ribu per sak. “Kenaikan ini dampak kenaikan BBM yang berpengaruh dalam ongkos angkut. Karenanya, harga dari pabrik naik Rp 3 ribu,” tandasnya. (wia/asa/ce4)

Cerita Sesti dan PHL Pengelola Kompos TPA Sukawinatan


Cerita Sesti dan PHL Pengelola Kompos TPA Sukawinatan
Dua PHL pengelola kompos TPA Sukawinatan Dinas Kebersihan Kota (DKK) Palembang tengah membuat kerajinan dari sampah anorganik

Di tempat pembuangan akhir (TPA), semua jenis sampah ada. Sebagaian masih bisa diolah hingga punya nilai ekonomis lagi. Kreativitas itulah yang dimiliki beberapa pekerja harian lepas (PHL) pengelola kompos TPA Sukawinatan Dinas Kebersihan Kota (DKK) Palembang.

================================

Khoirunnisak – Palembang

================================



Suara mesin jahit manual terdengar dari ruang workshop kompos di TPA Sukawinatan. Dua wanita berjilbab memakai seragam biru muda dan celana panjang hitam sedang serius berkreasi. Keduanya sedang menjahit kain perca untuk membuat aneka kreasi berbahan baku sampah anorganik.

Keduanya, Sesti (24) dan Nurmaidah (19). Status mereka merupakan PHL pada DKK Palembang. Mereka di tempatkan di sana sebagai staf pengelola dan workshop kompos. Sudah banyak karya tangan yang dihasilkan dari sisa sampah, mulai dari tas wanita, map, kembang, kotak pensil, bros, wadah telur, taplak meja hingga lainnya.

Semua hasil handmode dipajang rapi dalam dua lemari kaca di ruangan tersebut. Butuh waktu cukup lama untuk membuat dan map dari sampah plastik kantong minyak goring. “Plastik harus dicuci bersih dahulu, lalu dikeringkan. Setelah itu, baru digunting dan dijahit. Makan waktu sekitar dua minggu. Kalau bahannya ada, hasil produksinya cukup banyak,” kata Sesti.

Soal harga, bervariasi, tergantung kerumitan membuatnya. Seperti tas map, dijual Rp 20 ribu, bros dan gelang Rp 3 ribu. Yang termahal, msalnya tas dari bahan perca dan tambahan plastik cantik yang dibandrol Rp 100 ribu. Karena terkendala pemasaran, berbagai produk kerajinan tangan itu tidak terjual ke masyarakat. Untuk mendapatkan link pemasaran, berbagai hasil olahan sampah itu sering diikutkan dalam pameran di Palembang. Dari semua produk, bros dan gelang tangan yang paling banyak diminati pembeli. Sesekali, ada kunjungan dari siswa sekolah di Palembang yang ingin belajar dan melihat langsung proses daur ulang sampah di Sukawinatan.

Kesempatan itu dimanfaatkan Sesti dan PHL lain untuk mempromosikan dan menawarkan karya-karya yang dihasilkan selama ini. “Hingga saat ini, kendala pemasaran hasil produksi masih terjadi,” bebernya.

Kondisi ini jelas memengaruhi produktivitas merea dalam memaksimalkan daur ulang sampah menjadi berbagai kerajinan yang lebih bermanfaat. Kata alumnus SMKN 7 Palembang itu, tidak semua bahan baku diambil dari sampah bekas. Ada juga bahan yang dibeli, seperti busa tas, lem, benang, dan lainnya.

Pembelian mengunakan uang hasil penjualan dari karya inovasi yang dibuat Sesti dan kawan-kawannya. Karena hasil karya mereka belum terjual, mau tidak mau mengerjakan kerajinan lain, seperti kotak pensil yang menggunakan koran bekas dan lem.

Dengan rajin browsing di internet, para PHL ini mencari inovasi lain yang dapat mereka buat dari bahan sampah. Sesekali ada tambahan ilmu dan keterampilan dari sosialisasi beberapa pihak terkait yang mengajari mereka kerajinan baru. “Kami sharing kerajinan terbaru yang bisa dibuat dengan menggunakan bahan-bahan bekas ini,” ungkap wanita yang sudah dua tahun menjadi PHL itu.

Dengan status PHL, Sesti menerima upah sebesar Rp 35 ribu per hari yang dibayarkan seminggu sekali, setiap hari Jumat. Gaji itu tidak berpengaruh terhadap hasil penjualan kerajinan yang dikerjakan bersama teman-temannya, mulai pukul 09.00 WIB – 16.00 WIB.

Mereka menginginkan agar pengelola TPA Sukawinatan dapat menambah fasilitas listrik dan televisi di ruang kerja demi menghapus rasa jenuh yang kadang mendera di sela-sela waktu kerja. Saat ini, ketika cuaca mendung, ruang kerja di sana gelap sehingga mengganggu kenyamanan dan kelancaran dalam bekerja. “Memang ada satu lampu, tapi hanya bisa menyala saat mesin cacah dihidupkan,” tuturnya.

Sesti dang rekanya berharap kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dapat mencarikan solusi untuk masalah pemasaran hasil karya mereka. Intinya, aneka produk berbahan baku sampah itu bisa terjual dan dimanfaatkan masyarakat. “Kalau soal kreasi dan kualitas, jelas tidak kalah dengan karya daur ulang sampah dari kelompok lain,” tukasnya. (*/ce4)

Kamis, 16 Mei 2013

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang (2/Selesai)

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang
Photo: Koleksi LEMABANG 2008. Musibah kebakaran yang terjadi di Jl Yos Sudarso, Lr Damai, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, Lemabang, Palembang, beberapa tahun lalu (8/9/2011)

Meski bukan aparat TNI atau Polri, tapi menjadi seorang anggota pemadam juga butuh nyali besar. Untung saja konsep pelatihan dan pendidikan yang diterapkan kepada seluruh anggota menggunakan metode semi-militer. Pasalnya, banyak sekali kendala dan rintangan dalam tugas di lapangan..

================================
================================

Dikejar waktu untuk tiba di lakosi dam kompleksnya lokasi, membuat anggota Badan Penanggunalangan Bencana Daerah dan Pemadam kebakaran (BPBD-PK) Palembang rentan terhadap kecelakaan.

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang“Untung saja sejauh ini belum ada personel kita yang mengalami kecelakaan dalam tugasnya. Kalau yang terbakar ringan pada tangan ada. Kami menekankan prensip kehati-hatian dengan menggunakan safety first yang benar,” kata Kepala BPBD-PK Palembang, Dicky Lenggardi saat dibincangi santai di kantornya oleh wartawan koran ini, kemarin.

Karena menyangkut nyawa, baik personel maupun penghuni rumah/gedung yang terbakar, penting menekankan kepada seluruh personel pemadam kebakaran untuk tidak melakukan kesalahan. “Tidak boleh ada kesalahan sedkiti pun, karena akan berakibat fatal. Tidak hanya untuk dirinya, tapi juga personel lainnya,” jelasnya.

Semua personel BPBD-PK Palembang dituntut mampu bekerja sama dalam tim. Makanya, kata Dicky, ditanamkan rasa kebersamaan dan memiliki jiwa kesatuan (jiwa korsa), layaknya prajurit militer.

Ada banyak suka duka yang dialami jajarannya. Dicky mencontohkan, saat berusaha memadamkan kebakaran rumah di kawasan Ariodillah, terpaksa anggotanya menarik selang air melewati atas jenazah karena sempitnya akses masuk menuju lokasi yang terbakar.

“Alhamdulillah, keluarga yang berduka mengizinkan, jadi tugas tetap berjalan,” kenangnya. Belum lagi pengalaman paling heroik saat kebakaran Hotel King tahun 2007 lalu. Personelnya mampu menyelamatkan hingga 10-an nyawa menggunakan mobil tangga.

“Di sana kita tidak hanya bertugas memadamkan kebakaran, tapi juga menyelamatkan orang. Rasa bangganya luar biasa,” cetusnya. Kesedihan mendalam pun pernah dirasakan saat mereka gagal menyelamatkan nyawa pengunjung Happy Karaoke di kompleks Ilir Barat Permai, beberapa tahun silam.

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang“Kami berusaha sekuat tenaga memadamkan api dan mencegah korban. Tapi kadang terbatas karena kekurangan alat,” imbuh Dicky. Banyak hal yang personelnya masih kesulitan untuk menyelesaikan tugas secepat mungkin. Selain ketiadaan alat, juga ketidaktahuan masyarakat menggunakan alat untuk melakukan penyelamatan pertama.

Belum lagi, jika akses menuju pemukiman padat penduduk berupa lorong sempit dan pemukiman yang mayoritas dari bahan kayu sehingga mudah terbakar. “Sering pula akses masuk terhalang portal atau gapura. Jelas mobil kita tidak dapat masuk dan hanya sampai di ujung lorong,” bebernya.

Meski peralatan BPBD-PK Palembang saat ini semakin mumpini, tapi harus diakui, kondisi lapangan kadang tidak semulus harapan. “Selang kita maksimal 500 meter panjangnya. Dalam kondisi tertentu, personel kita biasanya mengambil jalan alternatif untuk tiba di lokasi secara cepat dan dekat,” tutur Dicky.

Problem lain muncul jika lokasi kebakaran jauh dari sumber air. “Kita dituntut untuk berpikir cepat dan tanggap. Yang pasti, sejauh mana pun lokasinya, personel kita berusaha secepat mungkin tiba dan memadamkan apinya,” ujarnya.

Terkadang, karena saking ingin cepatnya melakukan pertolongan, beberapa insiden kecil seperti menabrak gerobak bakso, pejalan kaki, pengendara dan lainnya dapat terjadi. “Alhamdulillah, biasanya dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Masyarakat mengerti apa yang terjadi dan tidak pernah memperpanjang persoalan itu,” jelas Dicky.

Ia hanya kadang sedih ada masyarakat yang tidak paham perjuangan pemadam kebakaran. Sesuai prosedur, begitu ada panggilan kebakaran, personelnya hanya butuh waktu 5-15 menit untuk tiba di lokasi karena kecepatan mobil 80-100 Km per jam. Tapi, lagi-lagi, senua tergantung jarak dan hambatan di jalan.

“Tapi masih ada masyarakat yang berpikir kita bekerja maksimal dan selalu datang terlambat ke lokasi. Seperti kebakaran di Tangga Buntung, beberapa waktu lalu. Ketika kita tiba di lokasi, kaca mobil kita langsung dipecahkan warga yang mungkin kesal dan menilai kita lamban,” tukasnya. (*/ce2)

Sumatera Ekspres, Kamis, 16 Mei 2013

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang (1)

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang
Photo: Koleksi LEMABANG 2008. Musibah kebakaran yang terjadi di Jl Yos Sudarso, Lr Damai, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, Lemabang, Palembang, beberapa tahun lalu (8/9/2011)


Orang awam mengenal instansi ini pemadam kebakaran. Di lingkungan Pemkot Palembang, dinamakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran. Keberadaaan mereka begitu diperlukan. Telat tiba di lokasi, mereka pasti disalahkan. Namun tak jarang para petugas pemadam ini mendapatkan kabar hoax alias bohong.

================================
================================


Suasana kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Palembang di Jl Merdeka terlihat lengang. Markas ppemadam si jago mereh ini tidak begitu besar, namun di dalamnya terdapat orang-orang yang memiliki berjiwa pemberani.

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota PalembangTampak berjejer delapan delapan unit mobil pemadam kebakaran (blanwir). Tak terlihat aktivitas mencolok saat kooran ini mampir ke sana, kemarin. Ternyata mereka ada di kantor, bersiaga dan stand by mengenakan seragam lengkap.

“Silakan masuk,” kata seorang staf yang berada di sana. Sekretaris BPBD-PK Kota Palembang, Romli Hopiah mengatakan, total personel yang dimiliki saat ini 90 orang. Mereka ditempatkan pada delapan pos yang tersebar di wilayah Palembang. Selain pos induk di Jl Merdeka, ada pos 5 Ulu, Sako, Alang-Alang Lebar (AAL), Gandus, 13 Ulu, Jakabaring, dan satu pos lagi di BKB

“Kita didukung dengan dua kapal air yang d tempatkan di pos BKB. Pos ini nantinya akan mengamankan kebakaran yang terjadi di pinggir Sungai Musi,” jelasnya. Ia mencontohkan, saat terjadi kebakaran di 4 Ulu, beberapa waktu lalu, peralatan dan tim pemadam kebakaran tidak hanya dikerahkan melalui jalur darat, tapi juga perairan.

“Kami menggunakan sistem double, darat maupun air, jika memang memungkinkan,” ucap Ramli. Seiring waktu, peralatan yang dimiliki semakin lengkap dan canggih. Ada 22 mobil pemadam, 15 mobil penembak, dan 7 mobil penyuplai (fire tangker), satu mobil bertangga, {rescue}, dua kapal pemadam, dan lima mesin pompa portable.

“Lima mesin pompa ini baru datang Februari lalu dan termasuk peralatan canggih yang kita miliki sekarang. Pompa ini mampu menyedot air dalam sekian detik hingga ribuan meter kubik,” bebernya. Tiap anggota telah pula dilengkapi safety first lengkap, mulai dari helm, live jacket, sarung tangan tahan panas dan api.

“Semua peralatan disebar di tujuh pos selain pos induk,” imbuhnya. Personel yang ada dibagi dalam tiga shift piket, pagi, siang, dan malam. Para petugas pemadam kebakaran ini selalu siaga dan tanggap dengan segala kemungkinan yang ada, khususnya kebakaran.

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota PalembangMeski sudah cukup banyak dan lengkap, tapi Romli menegaskan, peralatan dan jumlah personel yang ada saat ini masih dirasakan kurang. Selama ini, pihaknya mencoba mengoptimalkan yang ada. Seiring perluasan ruang lingkup kerja, pihaknya telah meminta tambahan peralatan, khusus untuk penanggulangan bencana banjir. Mulai perahu karet, tenda, truk, truk evakusai dan tandu, termasuk personel. Idealnya, kata Romli, satu pos dijaga 15 orang petugas. Saat ini baru 10 orang.

Jumlah kapal pemadam untuk wilayah perairan juga kurang mengingat panjangnya bantaran Sungai Musi. “Selang kita paling panjang 500 meter. Selebihnya, harus menggunakan pompa,” cetusnya. Romli berharap bantuan dan dukungan dari masyarakat. Selama ini, setiap ada kebakaran lebih banyak menonton sehingga menyulitkan akses menuju lokasi. Banyak juga yang mau membantu, tapi minim mengetahui menggunakan alat.

“Ada yang mau bantu. Begitu kita tiba, mereka langsung menarik selangnya. Bagaimana mau mengalir kalau connecting antar pipa belum dipasang,” tuturnya. Belum lagi, kalau ada selang yang dipotong warga yang “nakal”. Dengan slogan Pantang Pulang Sebelum Padam, mereka berusaha keras menjangkau semua lokasi kebakaran, walau medan yang dilalui sulit.

Yang kadang membuat sedih, begitu tiba di lokasi, tidak ada kebakaran yang diinformasikan. “Pernah ada beberapa kali laporan kebakaran, saat ke lokasi ternyata tidak ada atau hoax saja,” tukas Romli. Karana itu, saat ini pihaknya menyiapkan dua juru telepon (jurtel) yang hafal semua kode area telepon di Palembang. “Petugas kita itu mampu mendeteksi info tersebut bohong atau benar,” pungkasnya. (*/ce2)

Sumatera Ekspres, Rabu, 15 Mei 2013

Rabu, 03 April 2013

Parkir Sembarangan

Parkir Sembarangan

Pemandangan ini hampir setiap hari menjelang sore terlihat di dalam Terminal Lemabang, di sepanjang lajur bebas angkutan umum. Para pengguna sepeda motor ini seperti tidak peduli kalau mereka memarkirkan kendaraan di jalur bebas angkutan umum, akibatnya kendaraan umum pun terpaksa ngetem di pintu masuk terminal untuk menaikan penumpang.

Posted by: LEMABANG 2008, Kamis, 4 April 2013 02.12 WIB



Parkir Sembarangan